Minggu, 26 Juni 2011
Mengupas Hubungan Hindu dan Yunani
Jumat, 24 Juni 2011
Islam dan Kebebasan Beragama
Sesungguhnya, kebebasan beragama dan berkeyakinan mendapat jaminan yang jelas dan pasti dalam Islam. Dalam perspektif Islam, al Quran telah secara jelas dan tegas menyatakan “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” QS 2:56. Di sini, Islam melarang secara tegas bentuk-bentuk pemaksaan untuk menganut agama tertentu. Kebebasan manusia dalam memilih agama dan keimanan merupakan prinsip paling fundamental dari ajaran akidah Islam. Dengan demikian, penegasan al Quran tentang kebebasan manusia untuk beriman atau kufur tanpa paksaan merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. “Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” demikian pernyataan al Quran (QS 18:29).
Jaminan Islam terhadap kebebasan beragama sebenarnya muncul dari pengakuan Islam atas kemajemukan keagamaan. Dalam praktiknya, jaminan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah saw sebagaimana tertuang pada Konstitusi Madinah. Dalam konstitusi tersebut, dijelaskan antara lain klausul tentang pengakuan eksistensi kaum Yahudi sebagai bagian dari kesatuan komunitas umat bersama kaum Muslimin di Madinah.
Bertolak dari kebebasan beragama yang dijamin oleh Islam ini pula, Khalifah ke-2, Umar bin Khatthab memberikan jaminan keamanan bagi penduduk Baitul Maqdis yang beragama Kristen. “Bagi mereka jaminan keamanan atas kehidupan, gereja-gereja dan salib-salib mereka. Mereka tidak boleh diganggu dan ditekan karena alasan agama dan keyakinan yang mereka anut”, demikian kebijkan dan jaminan Umar bin Khatthab bagi umat non-Islam.
Lebih dari itu, Islam juga sangat terbuka bagi munculnya dialog-dialog cerdas dan positif antarumat beragama. Ia sangat menghargai dialog-dialog yang dilandasi oleh prinsip objektifitas dan tidak bertujuan untuk saling memojokkan atau mendiskreditkan. Dalam hal ini, al Quran menyatakan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” QS 16:125
Sejatinya, dialog antaragama memang harus berlandaskan pada prinsip yang toleran seperti anjuran ayat al Quran di atas. Demikian memang ajakan dan perintah al Quran kepada kaum Muslim dalam melakukan dialog dengan para kaum Ahlul Kitab, sebagaimana firman Allah swt:
“Katakanlah, “Hai Ahlul Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah “Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” QS 3:64.
Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa bilamana suatu dialog antarumat beragama mengalami deadlock dan tidak mencapai titik temu yang diharapkan, maka setiap penganut agama harus kembali kepada ajaran agama masing-masing. Inilah sebenarnya makna dari ayat terakhir surah al kafirun “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” QS 109:6.
Keimanan, keyakinan, dan keberagaman, agar benar dan dipercayai, haruslah merupakan tindakan yang berdiri di atas, dan didasari oleh, penerimaan yang sadar, tulus dan tanpa paksaan. Keimanan dan keyakinan yang hakiki tidak akan muncul jika landasannya adalah fanatisme buta atau karena keterpaksaan. Dengan kata lain, masalah keimanan adalah urusan dan komitmen individual, karenanya tak seorang pun dapat mencampuri dan memaksa komitmen individual ini. Iman, sebagaimana ditekankan dalam teks dasar Islam dengan kata-kata yang jelas dan tak dapat diragukan, merupakan tindakan sukarela yang lahir dari keyakinan, ketulusan dan kebebasan.
Oleh karenanya, setiap individu sebenarnya memiliki kebebasan dalam memilih keyakinan dan keimanan, sebagaimana ia juga mempunyai kebebasan untuk menganut suatu paham atau aliran pemikiran tertentu. Tak seorangpun dapat melarang seseorang untuk tidak menganut aliran pemikiran tertentu, bahkan pemikiran yang atheis sekalipun. Ia bebas meyakininya selama menjadi komitmen pribadinya dan tidak mengganggu kebebasan orang lain. Tetapi bila ia berusaha memprovokasi dan menyebarkan pemikiran atheistik yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan yang dianut oleh suatu masyarakat yang religius, tentu persoalannya menjadi lain. Sebab pada saat itu, ia telah melakukan pelanggaran terhadap ketentraman dan kepentingan publik akibat agitasi dan peraguan yang dilakukan. Sebagaimana dimaklumi, setiap pelanggaran terhadap keamanan dan stabilitas umum, di negara dan komunitas manapun, tentu akan berhadapan dengan sanksi hukum tertentu. Bahkan dibeberapa negara, sanksi pelanggaran terhadap keamanan dan stabilitas umum bisa sampai pada hukuman mati, karena dianggap telah melakukan pengkhianatan besar atau makar terhadap negara.
Pada titik ini, kiranya dapat dipahami, bahwa dalam syariat Islam, hukuman mati bagi orang yang murtad sebenarnya dilakukan bukan semata-mata karena pilihan bebas seseorang untuk ke luar dari Islam (murtad), melainkan karena fitnah dan agitasi yang dilakukannya dianggap telah mengganggu ketentraman dan stabilitas umum dalam sebuah Islam. Dengan demikian, jika seseorang memutuskan ke luar dari Islam (murtad) dan keputusannya itu hanya menjadi komitmen dan keyakinan pribadinya, sementara dia tidak berupaya melakukan agitasi dan provokasi kepada publik, tentu ia bebas memilih dan menganut keyakinannya itu tanpa harus khawatir mendapatkan sanksi hukum dari negara.
Oleh karenanya, beberapa cendikiawan Muslim kontemporer menyatakan bahwa sanksi hukum bagi seorang murtad (sebagai komitmen dan keyakinan pribadi), bukanlah di dunia ini, melainkan di akhirat kelak. Adapun peperangan yang terjadi di masa-masa awal Islam terhadap beberapa kelompok orang yang murtad, peperangan tersebut dilakukan bukan karena faktor ke luarnya seseorang atau sekelompok orang dari Islam (murtad), tetapi lebih disebabkan oleh kekacauan dan pemberontakan yang dilakukan orang-orang murtad itu terhadap Islam dan kaum Muslimin.
Relativitas Waktu
Allah bertanya: "Berapa tahunkah kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab:"Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung. Allah berfirman:"Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui" (Al Mu'minuun : 112-114)
(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram; mereka berbisik-bisik di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sepuluh (hari)" Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja" (Thahaa : 102-104)
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa di akhirat, hidup yang kita rasakan di dunia sebagai beberapa tahun terus menerus, akan kita dapati hanya berlangsung tidak lebih dari sekejap saja, sebagaimana waktu yang dihayati di dalam mimpi atau di bawah pengaruh hipnosis. Ketika sedang bermimpi, kita merasakannya seolah berlangsung selama beberapa jam atau hari. Namun penemuan ilmiah memperlihatkan bahwa hal itu berlangsung hanya beberapa menit bahkan detik. Mirip dengan itu, waktu kita hidup di dunia pun akan kita dapati sangat singkat, ketika kita terbangun dari tidur kita sepanjang hidup ini.
Akan kita isi dengan apa dalam hidup yang singkat ini?
Sumber : Harun Yahya, Robbani Press.
Islam dan Rasisme
Ditekankan bahwa kita mesti berlaku adil dan baik kepada manusia, apapun rasnya, dan tidak boleh berbuat zhalim, munkar, keji, serta melampaui batas (an Nahl : 90). Jangan sampai kebencian, prejudice atau fanatisme kelompok mempengaruhi kita sehingga bertindak zhalim (al Ma'idah : 8). Haram hukumnya membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan (bi-ghayri haqq) (al Isra' : 33). Tidak dibenarkan membunuh orang yang lemah (wanita, anak-anak, golongan lanjut usia), orang tak bersalah apa-apa, dan orang yang sudah meyerah. Membunuh seorang manusia yang bukan pembunuh (bi-ghayri nafs) dan bukan pula perusak adalah sama dengan membunuh seluruh manusia (al Ma'idah : 32). Jangankan melakukan pembunuhan, sedang menindas dan merampas hak manusia lain saja dilarang. Tidak hanya mengubur bayi perempuan hidup-hidup yang dikutuk, tapi juga bersikap angkuh atau menganggap diri super dengan jelas dikecam (al Israa' : 37-38).
Islam adalah satu-satunya agama yang dengan tegas menentang dan berupaya melepaskan manusia dari belenggu pembudakan. Memerdekakan budak (tahriru raqabah) sangat digalakkan sebagai alternatif pembayaran denda dan penghapus dosa (kaffarah). Kampanye 'manumissi' ini sudah dimulai sejak Nabi Muhammad saw melancarkan dakwahnya di Mekah, sebagaimana direkam dalam ayat 13 surah al Balad "fakku raqabah". Memerdekakan di sini bisa dengan melepaskan haknya sebagai tuan, dengan cara membeli atau ataupun menebus dari tuan pemilik budak yang bersangkutan lalu membebaskannya. Rasulullah sendiri selama hidupnya membebaskan tidak kurang dari 63 orang budak, sedangkan Aisyah ra istri beliau memerdekakan 67 hamba sahaya. Kalau Abdullah 'ibnu Umar membebaskan sekitar 1.000 orang budak, maka pengusaha 'Abd al Rahman ibn 'Awf membeli 30.000 budak untuk kemudian dimerdekakan. Kebijakan dan teladan ini ditiru oleh kaum muslimin dari generasi mendatang hingga lama-kelamaan pembudakan berhasil dilenyapkan.
Rasulullah menegaskan kembali dalam 'khutbah perpisahan' beliau dihadapan ribuan jamaah haji di bukit Arafah pada hari Jumat, 9 Dzulhijjah 10 Hijriah (= 6 Maret 632 M), "Wahai manusia, dengarlah baik-baik. Aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih dapat bersama kalian. Simaklah apa yang akan aku katakan dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini...Setiap manusia adalah anak Adam dan Hawa. Orang Arab tidak lebih istimewa dari orang bukan Arab. Dan orang bukan Arab tidak lebih istimewa dari orang Arab. Demikian pula orang kulit putih tidak lebih istimewa dibanding orang kulit hitam. Dan orang kulit hitam tidak lebih istimewa dibanding orang kulit merah; kecuali karena takwa dan amal salihnya. Ketahuilah bahwa setiap orang muslim adalah saudara bagi orang muslim lainnya. Tidak boleh ia mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan izin dan ridhanya. Jangan kalian saling menzhalimi. Ingatlah suatu hari nanti kalian akan bertemu Allah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian".
Khutbah ini merupakan monumen dalam sejarah pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia (HAM), dideklarasikan 1.300 tahun silam sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948. Dalam khutbah tersebut Nabi Muhammad dengan tegas menolak rasisme apapun bentuknya, dari superpriority complex hingga diskriminasi dan perampasan hak orang lain. Beliau juga menyeru kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, jauh sebelum Revolusi Prancis meneriakkan slogan "liberte, egalite, fraternite". Manusia tidak boleh direndahkan dan dizhalimi hanya karena ras dan warna kulitnya.
Sumber: Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, penulis Dr. Syamsuddin Arif, penerbit Gema Insani Press.
Bible Mengajarkan untuk Mengkafani Jenazah
"Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru yang digalinya di dalam bukit batu dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia. Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu" (Matius 27 : 57-62).
"Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota sebuah Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan majelis itu. Ia berasal dari Arimatea sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengafaninya dengan kain lenan lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah di baringkan mayat. Hari itu adalah persiapan dan Sabat hampir mulai. Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan melihat kubur itu dan bagaimana mayatNya dibaringkan. Dan setelah pulang mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur" (Lukas 23:50-56a).
Matius dan Lukas dengan jelas menerangkan mayat Yesus yang dirawat dengan cara dikafani. Lalu, mengapa saat ini ketika meninggal dunia umat Kristen tidak dikafani, tetapi justru dirias (berjas, bersepatu, bersapu tangan, bermake-up, berjubah, bertopi, membawa tas atau tongkat) ?. Mengapa mereka tidak meniru cara Yesus dimakamkan, yakni dengan cara dikafani? Manakah yang ditiru, Bible atau doktrin gereja?
Orang yang mati kemudian dikafani adalah hal yang lumrah terjadi pada waktu itu karena memang demikian ajaran Tuhan yang dipraktikkan oleh Yesus dan komunitas Yahudi pada umumnya. Pada kisah Lazarus dibangkitkan, mayat Lazarus juga dikafani.
"Dan sesudah berkata demikian berserulah Ia dengan suara keras: 'Lazarus marilah keluar!' Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi" (Yohanes 11:43-44).
Petrus dan orang-orang muda merawat jenazah Ananias, juga dengan cara dikafani.
"Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan terputuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. Lalu datanglah beberapa orang muda, mereka mengafani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya" (Kisah Para Rasul 5:5-6).
Jadi semuanya sudah jelas: mayat dirawat dengan cara dikafani. Lalu, darimana datangya praktik meriasi jenazah atau kreasi memasukkan mayat ke dalam peti yang mahal? Jika mengubur dengan cara di peti tidak ada tuntunannya sama sekali dalam Bible, lalu dari mana datangnya tradisi itu?
Sumber: Evolusi Kristen, Penulis M.I. Ananias, Penerbit Gelanggang
Sabtu, 06 Maret 2010
Bible Berbicara Tentang Doktrin Ke-Tuhanan Yesus
Dasar doktrin
- Matius pasal 3 ayat 17 “Kemudian terdengar suara Allah mengatakan, ''Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Ia menyenangkan hati-Ku.''
- Lukas pasal 4 ayat 41 “Roh-roh jahat pun keluar dari banyak orang, sambil berteriak-teriak, ''Engkaulah Anak Allah!'' Tetapi Yesus membentak mereka dan tidak mengizinkan mereka berbicara, sebab mereka tahu bahwa Dialah Raja Penyelamat.”
Pembahasan
Jika kedua ayat di atas sdr jadikan dasar doktrin Yesus anak Tuhan, silahkan baca ayat berikut:
Matius pasal 5 ayat 9 "Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah."
Berdasarkan ayat ini yang dimaksudkan "Anak Allah" itu adalah orang yang dihormati seperti Nabi. Jika Yesus dianggap anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah juga. Jadi bukan Yesus saja Anak Allah tetapi ada yang lain dan sangat banyak.
Dalam Kejadian pasal 6 ayat 1-4 pun disebutkan, bahwa anak-anak Alllah sangat banyak dan tak terhitung, "Ketika manusria itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan”, ”maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka”, ”Berfirmanlah Tuhan: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja", ”Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purba kala, orang-orang yang kenamaan”.
Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah juga disebut anak Allah, lihat Roma pasal 8 ayat 14 ”Semua orang, yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah”
Dasar doktrin
- Yohanes pasal 14 ayat 9-10, "Siapa yang sudah tampak Aku, ia sudah tampak Bapa," ayat 10 "tiadakah engkau percaya bahwa aku ini didalam Bapa, dan Bapapun di dalam Aku? Segala perkataan yang aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal didalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu."
Pembahasan
Kita lihat dalam Yohanes pasal 17 ayat 23 "Aku di dalam mereka itu, dan Engkau di dalam Aku; supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan."
Dalam ayat ini ada tersusun kata "Aku di dalam mereka." Kata "mereka" di ayat ini ialah sahabat Yesus, dan yang dimaksudkan "dengan aku" ialah Yesus. Jadi, kata "AKU" beserta mereka artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Sehingga Tuhan itu beserta Yesus dan para sahabatnya. Jika dalam keyakinan kekristenan percaya mengenai kesatuan Yesus dengan Bapa maka saudara pun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan persatuan bukan hanya Tritunggal tetapi 15-tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tsb, yang manakah yang benar. Tiga menjadi Tunggal atau 15 menjadi Tunggal. Ayat manakah yang akan saudara yakini, yang tiga menjadi tunggal ataukah yang 15 menjadi tunggal?
Dasar doktrin
- Yohanes pasal 10 ayat 30 ”Aku dan Bapa adalah satu”
Pembahasan
Dalam Matius" pasal 27 ayat 46 "Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya: "Eli, Eli lama sabaktani," artinya "Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku."
Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, disaat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehingga Yesus sendiri minta tolong.
Manusia yang bersatu (kesurupan/kerasukan) dengan jin itu apakah dia disebut jin ?
Tentu tidak kan...
Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?
Dasar doktrin
- Matius pasal 1 ayat 18 "Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil dari pada roh kudus."
- Matius pasal 1 ayat 20 "Yusuf bermimpi seorang Malaikat, Tuhan berkata: "Hai Yusuf, anak Daud janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungan itu terbitnya dari pada Roh kudus."
Pembahasan
Kisah Rasul pasal 6 ayat 5 "Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stephanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Roh kudus, dan lagi Philippus, dan Prokhorus dan Nikanor dan Simion dan Parmenas dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia."
Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Roh Kudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya para Nabi lainnya dengan roh sucinya. Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para nabi yang terdahulu adalah Kudus, hal ini dijelaskan dalam 2 Petrus pasal 3 ayat 2 "Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan, dahulu oleh nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru Selamat, dengan jalan rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu."
Bibel menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan dengan kata lain bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Hal tersebut dijelaskan dalam:
- Kisah Rasul pasal 5 ayat 32 "Dan kami inilah saksi atas segala perkara itu," demikian juga Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia."
- Lukas pasal 1 ayat 41 "Maka berlakulah tatkala Elisabet mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang didalam rahimnya itu dan Elisabet penuh roh kudus."
Telah jelas sekali, bahwa arti Roh kudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapapun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Roh Kudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak Tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabet (istri Zakaria) pun mestinya Tuhan juga.
Dasar doktrin
- Wahyu pasal 22 ayat 13 "Maka Aku inilah Alif dan Ya, yang terdahulu dan yang kemudian. Yang Awal dan Yang Akhir."
Pembahasan
Rangkaian perkataan di atas bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan firman Allah kepada Yesus. Silahkan baca Wahyu pasal 21 ayat 6 "Maka firmannya kepadaku: "Sudahlah genap; Aku inilah Alif dan Ya, yaitu yang awal dan yang Akhir."
Dengan sangat jelas ayat di atas menyebutkan "Maka firmannya kepadaku," Siapakah yang berfirman kepadaku (kepada Yesus) di ayat ini?
Yang berfirman Aku inilah Alif dan Ya, yang Awal dan Yang Akhir, bukan perkataan Yesus sendiri, tetapi firman Allah kepada Yesus.
Minggu, 06 Desember 2009
Bible Berbicara Tentang Dosa Waris
![]() |
| bacaiqra.blogspot.com |
Kita lihat bagaimana sesungguhnya Bibel berbicara tentang dosa waris:
1. Yehezkiel pasal 18 ayat 20
"Orang berbuat dosa, ia itu juga akan mati; maka anak tiada akan menanggung kesalahan bapaknya, dan Bapa pun tiada akan menanggung kesalahan anak-anaknya; kebenaran orang yang benar akan tergantung atasnya dan kejahatan orang fasik pun akan tergantung atasnya."
Jelas Bibel sendiri menyebutkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri perbuatan baik maupun buruk, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka dosa Adam dan Hawa harus ditanggung sendiri oleh keduanya. Tidak diwariskan kepada generasi selanjutnya.
2. Matius pasal 19 ayat 14.
"Tetapi kata Yesus. 'Biarkanlah kanak-kanak itu, jangan dilarangkan mereka itu datang kepadaku, karena orang yang sama seperti inilah yang empunya kerajaan surga”
Ayat di atas menyatakan bahwa Yesus sendiri yang berkata, bahwa Yesus mengakui kesuciannya kanak-kanak. Sedangkan mereka belum mengakui kesalibannya Yesus dan juga belum dibaptiskan, tetapi mempunyai kerajaan surga. Jadi berdasarkan pengakuan Yesus sendiri bahwa kanak-kanak itu tidak membawa dosa waris dari Adam dan Hawa, oleh karena itulah Yesus berkata: Mereka adalah suci dari dosa dan dengan sendirinya masuk surga.
3. Roma Pasal 2 ayat 5 dan 6.
"Tetapi menurut degilmu dan hati yang tiada mau bertobat, engkau menghimpunkan kemurkaan keatas dirimu untuk hari murka dan kenyataan hukum Allah yang adil." "Yang akan membalas ke atas tiap-tiap orang menurut perbuatan masing-masing."
Ayat di atas menyatakan bahwa kita akan di balas sesuai dengan perbuatan kita masing-masing, bukan berdasarkan dosa warisan. Renungkanlah, gunakan akal pikiran yang Tuhan berikan kepada kita, tayakan pada hati nuranimu yang paling dalam. Carilah jawaban atas kegelisahan hatimu.
4. Matius pasal 16 ayat 27.
"Karena anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap orang menurut perbuatannya."
5. 2 Korintus pasal 5 ayat 10.
"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat."
6. Ulangan pasal 24 ayat 16
”Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri”
7. II Tawarikh pasal 25 :4
”Tetapi anak-anak mereka tidak dihukum mati olehnya, melainkan ia bertindak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Taurat, yakni kitab Musa, di mana Tuhan telah memberi perintah: ''Janganlah ayah mati karena anaknya, janganlah juga anak mati karena ayahnya, melainkan setiap orang harus mati karena dosanya sendiri.''
8. Yeremia pasal 31 ayat 29-30
” Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu,”
”melainkan: Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu”
9. Yehezkiel pasal 18 ayat 20-22
”Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya”
”Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati”
”Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya”
10. Dalam kekristenan, dosa yang dilakukan Adam akan pindah kepada anak keturunannya. Dosa itu diwariskan kepda anak cucunya melalui nutfah ayah. Oleh karena itulah mereka beranggapan bahwa dengan cara Yesus dilahirkan tanpa ayah, berarti Yesus tetap terpelihara dari bekas-bekas dosa warisan tersebut. Padahal Bible mengatakan bahwa Adam dan Hawa (kedua-duanya) telah makan dari pohon larangan itu. Dengan sendirinya keduanya sama-sama bergelimang dalam dosa. Malah Hawa yang lebih besar dosanya, Kejadian pasal 3 ayat 6 ”Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya”.
Dan juga dalam I Timotius pasal 2 ayat 14 ”Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”
Jika berdasarkan ayat-ayat tadi, agar Yesus terpelihara dari ”bekas-bekas dosa” Adam, maka seharusnya Yesus tidak lahir melalui Maria. Karena Maria adalah keturunan dari Adam dan Hawa.
Bila ada seseorang manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan tanpa ibu, berarti orang tersebut terbebas dong dari dosa warisan Adam. Dan juga orang tersebut jauh lebih berhak mendapat jabatan Tuhan bila dibandingkan Yesus yang dilahirkan oleh Maria. Siapakah gerangan orang itu? Dia adalah Melkisedek. Dalam Ibrani 7 : 1-3 "Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia". "Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera". "Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya".
Buddha and Jesus
The Review of Religions, June 1990
Buddha and Jesus were both holy prophets of God who appeared in their own times for the spiritual rejuvenation of the people to whom they were sent. Buddha appeared in India about six hundred years before Jesus. In both were found a purity of life, sanctity of character and patient endurance under fierce persecution. It appears that they were both very near in resemblance as suggested by the following analogies.
1. Jesus was born of a virgin without carnal intercourse. (Matth. Chapter 1)
Buddha was born of a virgin without carnal intercourse. (Hinduism by Williams, pp. 82 and 108)
2. When Jesus was an infant in his cradle, he spoke to his mother and said: I am Jesus, the son of God. (Gospel of Infancy)
When Buddha was an infant, just born, he spoke to his mother and said: I am the greatest among men. (Hardy's Manual of Buddhism, pp. 145-6)
3. The life of Jesus was threatened by King Herod. (Matth. 2:1)
The life of Buddha was threatened by King Bimbarasa. (History of Buddha by Beal pp. 103-104)
4. When Jesus was a young boy we are told that the learned religious teachers were astonished at his understanding and answers. (Luke 2:47)
When sent to school, the young Buddha surprised his masters. (Hardy's Manual of Buddhism)
5. Jesus fasted for forty days and nights. (Matth. 4:2)
Buddha fasted for a long period. (Science of Religion by Muller, p 28)
6. It is believed that Jesus will return to this world. (Acts 1:11)
It is believed that Buddha will return to this world. (Angel-Messiah by Bunsen, Ch. 14)
7. Jesus said: Think not that I am come to destroy the law, or the prophets; I am not to destroy but to fulfill. (Matth. 5:17)
Buddha came not to destroy the law but to fulfill it. (Science of Religion by Muller, p 140)
8. Jesus taught: Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you. (Matth. 5:44)
According to Buddha, the motive of all our actions should be pity, or love for our neighbour. (Science of Religion by Muller, p 249)
9. It is recorded certain of the scribes and pharisees answered, saying, Master we would see a sign from thee. (Matth. 12:38)
It is recorded in the Sacred Canon of the Buddhists that the multitude required a sign from Buddha that they might believe. (Science of Religion by Muller, p 27)
10. It is written in the New Testament that Jesus said: If thy right eye offend thee, pluck it out, and caste it from thee. (Matth. 5:29)
A story is related of a Buddhist ascetic whose eye offended him so he plucked it out and threw it away. (Science of Religion by Muller, p 245)
The basic teachings of Buddha are very similar to those taught by Jesus most of which are contained in his Sermon on the Mount. (Matth. ch 5)
The essence of Buddha's teachings are:
Gautama Buddha taught that all men are brothers, that charity ought to be extended to all, even to enemies; that men ought to love truth and hate the lie; that good work ought not to be done openly; but rather in secret; that the dangers of riches are to be avoided; that man's highest aim ought to be purity in thought, word and deed, since the higher things are pure, whose nature is akin to that of man.
(The Angel-Messiah by Benson)
There are, indeed, also points of resemblance in the history of Buddha and Jesus. It has been declared that history of Jesus, as portrayed in the New Testament, is a copy of the history of Buddha:
The most ancient of the Buddhistic records known to us contain statements about the life and the doctrines of Gautama Buddha which correspond in a resemblance manner, and impossibly by mere chance, with the traditions recorded in the Gospels about the life and teachings of Jesus.
(The Angel-Messiah by Benson, p 50)
The view has been advanced that the similarities found in the lives and teachings of Gautama Buddha and Jesus could not happen by chance and that as Buddha is the older than Christianity then the former is the parent of the latter. This, of course, is speculation as there are many teachings and points similar and common to all religions.
Sabtu, 05 Desember 2009
Hadiah Natal
"Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?"
Memang, cerita itu berasal dari Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.
Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:
"The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows."
"Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus."
Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya.
Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?
Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati "sebuah hari" - yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus - dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.
Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.
Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:
"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia." Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain."
Siapa Santa Claus / Sinterklas itu ?
![]() |
| http://royalradio.wordpress.com/ |
"St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…"
"St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…"
Sungguh merupakan suatu kejanggalan!! Orang tua melarang dan menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, pihak gereja dan orang tua malah berkerja sama dalam membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Sebaiknya jujur saja dan bilang pada anak kalau yang memberi hadiah itu ortunya sendiri. Tidak usah dibohongin anaknya. Kalau sedari kecil anak sudah dibohongin dan diajarin untuk bohong ya apa jadinya nanti.
![]() |
| http://royalradio.wordpress.com/ |
Setelah kebohongan tentang tentang Sinterklas terbuka, tentu selanjutnya mereka mulai mempertanyakan tentang siapa Yesus sesungguhnya.







