"Katakanlah:"Dia-lah Allah, Yang Maha Esa". Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Al Quran : Al Ikhlas 1-4)

Minggu, 06 Desember 2009

Bible Berbicara Tentang Dosa Waris

bacaiqra.blogspot.com
Umat Kristiani meyakini bahwa setiap manusia yang dilahirkan akan menanggung dosa warisan dari manusia pertama, yaitu Adam. Doktrin ini terus ditanamkan Gereja terutama pada sekolah-sekolah minggu. Sebagai manusia yang telah dianugerahkan oleh Tuhan berupa akal dan pikiran, tentu kita akan berpikir koq bisa-bisanya dosa diwariskan. Pasti ada ganjalan dalam hati nuarani yang paling dalam. 
Kita lihat bagaimana sesungguhnya Bibel berbicara tentang dosa waris:

1. Yehezkiel pasal 18 ayat 20
"Orang berbuat dosa, ia itu juga akan mati; maka anak tiada akan menanggung kesalahan bapaknya, dan Bapa pun tiada akan menanggung kesalahan anak-anaknya; kebenaran orang yang benar akan tergantung atasnya dan kejahatan orang fasik pun akan tergantung atasnya."
Jelas Bibel sendiri menyebutkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri perbuatan baik maupun buruk, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka dosa Adam dan Hawa harus ditanggung sendiri oleh keduanya. Tidak diwariskan kepada generasi selanjutnya.

2. Matius pasal 19 ayat 14.
"Tetapi kata Yesus. 'Biarkanlah kanak-kanak itu, jangan dilarangkan mereka itu datang kepadaku, karena orang yang sama seperti inilah yang empunya kerajaan surga
Ayat di atas menyatakan bahwa Yesus sendiri yang berkata, bahwa Yesus mengakui kesuciannya kanak-kanak. Sedangkan mereka belum mengakui kesalibannya Yesus dan juga belum dibaptiskan, tetapi mempunyai kerajaan surga. Jadi berdasarkan pengakuan Yesus sendiri bahwa kanak-kanak itu tidak membawa dosa waris dari Adam dan Hawa, oleh karena itulah Yesus berkata: Mereka adalah suci dari dosa dan dengan sendirinya masuk surga.

3. Roma Pasal 2 ayat 5 dan 6.
"Tetapi menurut degilmu dan hati yang tiada mau bertobat, engkau menghimpunkan kemurkaan keatas dirimu untuk hari murka dan kenyataan hukum Allah yang adil." "Yang akan membalas ke atas tiap-tiap orang menurut perbuatan masing-masing."
Ayat di atas menyatakan bahwa kita akan di balas sesuai dengan perbuatan kita masing-masing, bukan berdasarkan dosa warisan. Renungkanlah, gunakan akal pikiran yang Tuhan berikan kepada kita, tayakan pada hati nuranimu yang paling dalam. Carilah jawaban atas kegelisahan hatimu.

4. Matius pasal 16 ayat 27.
"Karena anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap orang menurut perbuatannya."

5. 2 Korintus pasal 5 ayat 10.
"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat."

6. Ulangan pasal 24 ayat 16
”Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri

7. II Tawarikh pasal 25 :4
”Tetapi anak-anak mereka tidak dihukum mati olehnya, melainkan ia bertindak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Taurat, yakni kitab Musa, di mana Tuhan telah memberi perintah: ''Janganlah ayah mati karena anaknya, janganlah juga anak mati karena ayahnya, melainkan setiap orang harus mati karena dosanya sendiri.''

8. Yeremia pasal 31 ayat 29-30
” Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu,”
”melainkan: Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu”

9. Yehezkiel pasal 18 ayat 20-22
”Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya”
”Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati”
”Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya”

10. Dalam kekristenan, dosa yang dilakukan Adam akan pindah kepada anak keturunannya. Dosa itu diwariskan kepda anak cucunya melalui nutfah ayah. Oleh karena itulah mereka beranggapan bahwa dengan cara Yesus dilahirkan tanpa ayah, berarti Yesus tetap terpelihara dari bekas-bekas dosa warisan tersebut. Padahal Bible mengatakan bahwa Adam dan Hawa (kedua-duanya) telah makan dari pohon larangan itu. Dengan sendirinya keduanya sama-sama bergelimang dalam dosa. Malah Hawa yang lebih besar dosanya, Kejadian pasal 3 ayat 6 ”Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya”.
Dan juga dalam I Timotius pasal 2 ayat 14 ”Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”
Jika berdasarkan ayat-ayat tadi, agar Yesus terpelihara dari ”bekas-bekas dosa” Adam, maka seharusnya Yesus tidak lahir melalui Maria. Karena Maria adalah keturunan dari Adam dan Hawa.
Bila ada seseorang manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan tanpa ibu, berarti orang tersebut terbebas dong dari dosa warisan Adam. Dan juga orang tersebut jauh lebih berhak mendapat jabatan Tuhan bila dibandingkan Yesus yang dilahirkan oleh Maria. Siapakah gerangan orang itu? Dia adalah Melkisedek. Dalam Ibrani 7 : 1-3 "Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia". "Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera". "Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya".

Coba dipikirkan, seharusnya Melkisedek lah yang berhak mendapat jabatan Tuhan. Beragamalah berdasarkan pengetahuan, gunakan akal dan logikan. Bukan beragama hanya karena turunan.

Buddha and Jesus

Bashir Ahmad Orchard
The Review of Religions, June 1990

Buddha and Jesus were both holy prophets of God who appeared in their own times for the spiritual rejuvenation of the people to whom they were sent. Buddha appeared in India about six hundred years before Jesus. In both were found a purity of life, sanctity of character and patient endurance under fierce persecution. It appears that they were both very near in resemblance as suggested by the following analogies.

1. Jesus was born of a virgin without carnal intercourse. (Matth. Chapter 1)

Buddha was born of a virgin without carnal intercourse. (Hinduism by Williams, pp. 82 and 108)

2. When Jesus was an infant in his cradle, he spoke to his mother and said: I am Jesus, the son of God. (Gospel of Infancy)

When Buddha was an infant, just born, he spoke to his mother and said: I am the greatest among men. (Hardy's Manual of Buddhism, pp. 145-6)

3. The life of Jesus was threatened by King Herod. (Matth. 2:1)

The life of Buddha was threatened by King Bimbarasa. (History of Buddha by Beal pp. 103-104)

4. When Jesus was a young boy we are told that the learned religious teachers were astonished at his understanding and answers. (Luke 2:47)

When sent to school, the young Buddha surprised his masters. (Hardy's Manual of Buddhism)

5. Jesus fasted for forty days and nights. (Matth. 4:2)

Buddha fasted for a long period. (Science of Religion by Muller, p 28)

6. It is believed that Jesus will return to this world. (Acts 1:11)

It is believed that Buddha will return to this world. (Angel-Messiah by Bunsen, Ch. 14)

7. Jesus said: Think not that I am come to destroy the law, or the prophets; I am not to destroy but to fulfill. (Matth. 5:17)

Buddha came not to destroy the law but to fulfill it. (Science of Religion by Muller, p 140)

8. Jesus taught: Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you. (Matth. 5:44)

According to Buddha, the motive of all our actions should be pity, or love for our neighbour. (Science of Religion by Muller, p 249)

9. It is recorded certain of the scribes and pharisees answered, saying, Master we would see a sign from thee. (Matth. 12:38)

It is recorded in the Sacred Canon of the Buddhists that the multitude required a sign from Buddha that they might believe. (Science of Religion by Muller, p 27)

10. It is written in the New Testament that Jesus said: If thy right eye offend thee, pluck it out, and caste it from thee. (Matth. 5:29)

A story is related of a Buddhist ascetic whose eye offended him so he plucked it out and threw it away. (Science of Religion by Muller, p 245)

The basic teachings of Buddha are very similar to those taught by Jesus most of which are contained in his Sermon on the Mount. (Matth. ch 5)

The essence of Buddha's teachings are:

Gautama Buddha taught that all men are brothers, that charity ought to be extended to all, even to enemies; that men ought to love truth and hate the lie; that good work ought not to be done openly; but rather in secret; that the dangers of riches are to be avoided; that man's highest aim ought to be purity in thought, word and deed, since the higher things are pure, whose nature is akin to that of man.

(The Angel-Messiah by Benson)

There are, indeed, also points of resemblance in the history of Buddha and Jesus. It has been declared that history of Jesus, as portrayed in the New Testament, is a copy of the history of Buddha:

The most ancient of the Buddhistic records known to us contain statements about the life and the doctrines of Gautama Buddha which correspond in a resemblance manner, and impossibly by mere chance, with the traditions recorded in the Gospels about the life and teachings of Jesus.

(The Angel-Messiah by Benson, p 50)

The view has been advanced that the similarities found in the lives and teachings of Gautama Buddha and Jesus could not happen by chance and that as Buddha is the older than Christianity then the former is the parent of the latter. This, of course, is speculation as there are many teachings and points similar and common to all religions.

Sabtu, 05 Desember 2009

Hadiah Natal

Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah "The Christmas Shopping Season - Musim Belanja Natal" yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam sambil berkata:

"Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?"

Memang, cerita itu berasal dari Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.

Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:

"The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows."
"Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus."

Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya.

Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?

Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati "sebuah hari" - yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus - dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.

Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.

Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:

"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia." Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain."

Siapa Santa Claus / Sinterklas itu ?

http://royalradio.wordpress.com/
Sinterklas adalah tokoh buatan yang merupakan ide dari seorang pastur yang bernama "Santo Nicolas" yang hidup pada abad ke empat Masehi. Jadi sesungguhnya Sinterklas itu tidak ada, ia hanyalah tokoh khayalan berdasarkan ide Santo Nicolas. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:

"St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…"

"St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…"

Sungguh merupakan suatu kejanggalan!! Orang tua melarang dan menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, pihak gereja dan orang tua malah berkerja sama dalam membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Sebaiknya jujur saja dan bilang pada anak kalau yang memberi hadiah itu ortunya sendiri. Tidak usah dibohongin anaknya. Kalau sedari kecil anak sudah dibohongin dan diajarin untuk bohong ya apa jadinya nanti. 
Maka tak heran, disaat mereka telah dewasa dan mau menggunakan akal pikiran sesuai dengan fungsinya, mereka mulai mengetahui kebohongan mengenai Sinterklas. Dan terbongkarlah kebohongan tentang Sinterklas itu.
http://royalradio.wordpress.com/

Setelah kebohongan tentang tentang Sinterklas terbuka, tentu selanjutnya mereka mulai mempertanyakan tentang siapa Yesus sesungguhnya.

Asal Usul Natal

Natal berasal dari Gereja Katolik Roma, dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan Politheisme. Lalu dari manakah asal muasalnya? Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?

Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab) sampai pada sejarah kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod (Namrud - di masa inilah nabi Ibrahim lahir). Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir besar di masa nabi Nuh.

Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang pertama membangun kerajan di dunia. Nama "Nimrod" dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata "Marad" yang artinya "dia membangkang atau murtad" (Karena bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata "Marad" dengan kata Arab "Ridda" atau "murtad". Pen)

Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai saat ini. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon Natal.

Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod, Semiramis dianggap sebagai "Ratu Langit" oleh rakyat Babilonia. Dengan berbagai julukan, akhirnya Nimrod dipuja sebagai "Anak Suci dari Sorga". Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal, anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia ini, "Ibu dan anak" (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan. Ajaran penyembahan kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar Babilonia dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani, China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir!

Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama baru yang disebut "Kristen," dengan membawa adat dan kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari Natal. Di setiap musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu atau hymne: "Silent Night" atau "Holy Night" yang sangat akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak.

Budaya Babilonia dan semua tradisi yang berasal dari jaman jahiliyah kuno sangat berpengaruh, sehingga jika tidak kita telusuri maka kita tidak akan pernah tahu apakah suatu ajaran itu berasal dari ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari kepercayaan penyembah berhala?

Kita akan terperangah, terkejut, karena seluruh dunia terlanjur telah melakukannya. Lebih aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang setia:

"Katakan dengan lantang,
dan jangan menghiraukan penghinaan mereka!
Kumandangkan suaramu seperti terompet!
Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan mereka!"
Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan berdasarkan kebenaran dari Bibel (Alkitab).

Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar. Tradisi ini diwariskan puluhan abad yang lampau sampai kepada kita.

Di Mesir, ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit) melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua orang-orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang tahun (Natal) anak dewi Isis ini jauh sebelum kelahiran Yesus.

Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25 Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus. Para murid Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama tidak pernah menyelenggarakan Natal, meskipun hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen. Percaya atau tidak, terserah anda!

Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang dikenal dengan "Chaldean Mysteries" (Misteri Kaldea) berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat ini dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turun-temurun hingga sekarang dengan wajah baru yang disebut Kristen.

Yesus Tidak Lahir pada 25 Desember

Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:

"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan:
"It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).
"Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."

Adam Clarke melanjutkan:
"During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot."

"Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan Kaki".

Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.

Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur - yang diperkirakan jatuh pada bulan September - atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.

Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.

Islam dan Kebebasan Beragama

Sesungguhnya, kebebasan beragama dan berkeyakinan mendapat jaminan yang jelas dan pasti dalam Islam. Dalam perspektif Islam, al Quran telah secara jelas dan tegas menyatakan “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” QS 2:56. Di sini, Islam melarang secara tegas bentuk-bentuk pemaksaan untuk menganut agama tertentu. Kebebasan manusia dalam memilih agama dan keimanan merupakan prinsip paling fundamental dari ajaran akidah Islam. Dengan demikian, penegasan al Quran tentang kebebasan manusia untuk beriman atau kufur tanpa paksaan merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. “Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” demikian pernyataan al Quran (QS 18:29).
Jaminan Islam terhadap kebebasan beragama sebenarnya muncul dari pengakuan Islam atas kemajemukan keagamaan. Dalam praktiknya, jaminan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah saw sebagaimana tertuang pada Konstitusi Madinah. Dalam konstitusi tersebut, dijelaskan antara lain klausul tentang pengakuan eksistensi kaum Yahudi sebagai bagian dari kesatuan komunitas umat bersama kaum Muslimin di Madinah.
Bertolak dari kebebasan beragama yang dijamin oleh Islam ini pula, Khalifah ke-2, Umar bin Khatthab memberikan jaminan keamanan bagi penduduk Baitul Maqdis yang beragama Kristen. “Bagi mereka jaminan keamanan atas kehidupan, gereja-gereja dan salib-salib mereka. Mereka tidak boleh diganggu dan ditekan karena alasan agama dan keyakinan yang mereka anut”, demikian kebijkan dan jaminan Umar bin Khatthab bagi umat non-Islam.
Lebih dari itu, Islam juga sangat terbuka bagi munculnya dialog-dialog cerdas dan positif antarumat beragama. Ia sangat menghargai dialog-dialog yang dilandasi oleh prinsip objektifitas dan tidak bertujuan untuk saling memojokkan atau mendiskreditkan. Dalam hal ini, al Quran menyatakan:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” QS 16:125

Sejatinya, dialog antaragama memang harus berlandaskan pada prinsip yang toleran seperti anjuran ayat al Quran di atas. Demikian memang ajakan dan perintah al Quran kepada kaum Muslim dalam melakukan dialog dengan para kaum Ahlul Kitab, sebagaimana firman Allah swt:

“Katakanlah, “Hai Ahlul Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah “Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” QS 3:64.

Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa bilamana suatu dialog antarumat beragama mengalami deadlock dan tidak mencapai titik temu yang diharapkan, maka setiap penganut agama harus kembali kepada ajaran agama masing-masing. Inilah sebenarnya makna dari ayat terakhir surah al kafirun “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” QS 109:6.
Keimanan, keyakinan, dan keberagaman, agar benar dan dipercayai, haruslah merupakan tindakan yang berdiri di atas, dan didasari oleh, penerimaan yang sadar, tulus dan tanpa paksaan. Keimanan dan keyakinan yang hakiki tidak akan muncul jika landasannya adalah fanatisme buta atau karena keterpaksaan. Dengan kata lain, masalah keimanan adalah urusan dan komitmen individual, karenanya tak seorang pun dapat mencampuri dan memaksa komitmen individual ini. Iman, sebagaimana ditekankan dalam teks dasar Islam dengan kata-kata yang jelas dan tak dapat diragukan, merupakan tindakan sukarela yang lahir dari keyakinan, ketulusan dan kebebasan.
Oleh karenanya, setiap individu sebenarnya memiliki kebebasan dalam memilih keyakinan dan keimanan, sebagaimana ia juga mempunyai kebebasan untuk menganut suatu paham atau aliran pemikiran tertentu. Tak seorangpun dapat melarang seseorang untuk tidak menganut aliran pemikiran tertentu, bahkan pemikiran yang atheis sekalipun. Ia bebas meyakininya selama menjadi komitmen pribadinya dan tidak mengganggu kebebasan orang lain. Tetapi bila ia berusaha memprovokasi dan menyebarkan pemikiran atheistik yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan yang dianut oleh suatu masyarakat yang religius, tentu persoalannya menjadi lain. Sebab pada saat itu, ia telah melakukan pelanggaran terhadap ketentraman dan kepentingan publik akibat agitasi dan peraguan yang dilakukan. Sebagaimana dimaklumi, setiap pelanggaran terhadap keamanan dan stabilitas umum, di negara dan komunitas manapun, tentu akan berhadapan dengan sanksi hukum tertentu. Bahkan dibeberapa negara, sanksi pelanggaran terhadap keamanan dan stabilitas umum bisa sampai pada hukuman mati, karena dianggap telah melakukan pengkhianatan besar atau makar terhadap negara.
Pada titik ini, kiranya dapat dipahami, bahwa dalam syariat Islam, hukuman mati bagi orang yang murtad sebenarnya dilakukan bukan semata-mata karena pilihan bebas seseorang untuk ke luar dari Islam (murtad), melainkan karena fitnah dan agitasi yang dilakukannya dianggap telah mengganggu ketentraman dan stabilitas umum dalam sebuah Islam. Dengan demikian, jika seseorang memutuskan ke luar dari Islam (murtad) dan keputusannya itu hanya menjadi komitmen dan keyakinan pribadinya, sementara dia tidak berupaya melakukan agitasi dan provokasi kepada publik, tentu ia bebas memilih dan menganut keyakinannya itu tanpa harus khawatir mendapatkan sanksi hukum dari negara.
Oleh karenanya, beberapa cendikiawan Muslim kontemporer menyatakan bahwa sanksi hukum bagi seorang murtad (sebagai komitmen dan keyakinan pribadi), bukanlah di dunia ini, melainkan di akhirat kelak. Adapun peperangan yang terjadi di masa-masa awal Islam terhadap beberapa kelompok orang yang murtad, peperangan tersebut dilakukan bukan karena faktor ke luarnya seseorang atau sekelompok orang dari Islam (murtad), tetapi lebih disebabkan oleh kekacauan dan pemberontakan yang dilakukan orang-orang murtad itu terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Di Balik Poligami Nabi Muhammad SAW

Pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Khadijah ra berlangsung saat Nabi berusia 25 tahun; sementara Khadijah ra seorang janda yang pernah dua kali mengalami perkawinan saat itu mendekati usia 40 tahun. Nabi tetap mempertahankan perkawinan monogami dan menjadikan Khadijah ra sebagai satu-satunya pendamping hidup beliau sampai sang istri meninggal dunia. Sepeninggal Khadijah ra yang telah menemani hidupnya selama kurang lebih 28 tahun, Nabi saw tetap menampakkan kesetiannya pada sang istri.
Kehidupan Rasulullah saw sebagaimana tercatat dalam perjalanan hidupnya, baik sebelum diutus menjadi Nabi maupun sesudahnya membantah dengan sangat tegas anggapan yang menyatakan, bahwa beliau adalah seorang pengumbar syahwat. Adalah sangat tidak mungkin seorang Muhammad saw yang pada masa remajanya dikenal sebagai pemuda yang sangat menjaga kehormatan diri, ketika mencapai usia lebih dari setengah abad tiba-tiba menjadi seorang pemuja seks. Padahal, seandainya ia mau, kesempatan untuk mengumbar syahwat dapat dilakukannya sewaktu masih muda dan gagah, sebagaimana banyak dilakukan oleh pemuda-pemuda Quraisy seusianya.
Hujatan dan tuduhan bahwa Nabi saw sebagai pemuja seks juga semakin tidak masuk akal jika kita ketahui, bahwa diantara istri-istri yang dinikahinya dalam status gadis hanyalah Aisyah ra seorang. Selebihnya adalah para janda. Selain itu, beliau menikahinya karena alasan kemanusiaan yang luhur atau karena faktor yang berkaitan dengan hukum syariat. Tak seorangpun dari mereka dinikahi karena dorongan nafsu syahwat dan pemuasan seks.
Setelah melewati usia 50 tahun, Rasulullah menikah dengan Saudah binti Zam’ah, seorang janda yang dikenal tidak memiliki paras yang cantik. Ia juga bukan seorang hartawan atau berasal dari kalangan bangsawan. Tetapi Rasulullah tetap menikahinya dengan tujuan membantu meringankan beban kehidupan keluarganya setelah kematian sang suami, seorang sahabat Nabi yang telah mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya demi tegaknya dakwah Islam.
Adapun tujuan perkawinan beliau setelah itu dengan Aisyah binti Abu Bakar ra dan Hafsah binti Umar ra, tak lain adalah untuk lebih mempererat hubungannya dengan dua orang sahabat setia dan kelak menjadi khalifahnya, yaitu Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra.
Sementara Ummu Salamah, istri Nabi yang lain, adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya akibat terluka dalam perang Uhud. Usia Ummu Salamah tidak terbilang muda lagi saat dinikahi Nabi, sehingga ia mulanya agak riskan menerima lamaran Nabi saw mengingat usianya itu. Tetapi karena motif kemanusiaan, Nabi saw dapat menghilangkan rasa risih Ummu Salamah untuk bersedia menerima pinangannya.
Adapun istri beliau yang bernama Ramlah binti Abi Sufyan, ia adalah seorang yang ikut serta dalam hijrah pertama ke negeri Habasyah, menemani suaminya. Tetapi sangat disayangkan, saat berada di negeri Habasyah, sang suami ternyata berpindah menjadi pemeluk agama Nashrani sehingga membuat Ramlah, sang istri, terlantar. Mendengar berita itu, Rasulullah saw pun mengirim duta yang meminta Najasyi, penguasa Habasyah, untuk mengembalikan Ramlah ke Madinah. Diharapkan, dengan kembalinya Ramlah bersama-sama kaum Muslim di Madinah, ia tidak lagi terlantar di negeri orang; terselamatkan dari keluarganya di Mekkah yang masih belum menerima keislaman dan keputusannya untuk berhijrah ke Habasyah kala itu; dan pada waktu yang sama dengan menikahinya, Nabi saw berharap akan dapat menarik hati ayahnya, Abu Sufyan, seorang tokoh Mekkah yang sangat dihormati, untuk memeluk Islam.
Istri Nabi yang lain, Juawairiyyah binti al Harits, adalah seorang budak perempuan hasil tawanan perang Bani Musthaliq. Mengingat ayahnya adalah seorang pemimpin kabilah, Nabi saw bermaksud memuliakannya dengan cara menikahi dan membebaskannya. Nabi juga memerintahkan kaum Muslimin untuk membebaskan budak budak-budak perempuan dari kabilah yang seasal dengan Juwairiyyah.
Adapun Shafiyyah, istri Nabi saw yang berdarah Yahudi, adalah seorang putri pemimpin Bani Quraizhah. Nabi menikahinya setelah mengajukan dua pilihan kepadanya; dikembalikan kepada keluarganya atau menikah dengan Nabi saw dan dibebaskan dari perbudakan. Shafiyyah ternyata lebih memilih tetap berada di Madinah menjadi salah seorang istri Rasulullah saw ketimbang kembali kepada keluarganya di Bani Quraizhah.
Adapun perkawinannya dengan putri bibinya, Zainab binti Jahsy ra adalah karena faktor yang berkaitan dengan penerapan hukum syariat Islam. Sebelumnya, Zainab binti Jahsy ra adalah istri yang diceraikan oleh anak angkat Nabi, Zaid bin Haritsah ra. Tradisi yang berlaku pada bangsa Arab kala itu melarang seorang ayah angkat untuk mengawini mantan istri anak angkatnya. Melalui praktik pernikahan Nabi saw dan Zainab binti Jahsy ra, sebagaimana dinyatakan di dalam al Quran, tradisi jahiliah yang tak beralasan ini akhirnya dihapus oleh Islam.
Allah swt berfirman:

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan pada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” QS 33:37.


Sumber: Islam Dihujat Islam Menjawab, Prof. Dr. Mahmoud Hamdi Zaqzouq

Islam dan Poligami

Sesungguhnya, Islam bukanlah agama pertama yang melegalkan praktik poligami. Islam, dengan demikian tidaklah membawa sesuatu yang baru, dan tidak menjadi pelopor praktik poligami. Justru Islamlah agama pertama yang mengatur kehidupan berkeluarga dan menjadi pelopor dalam hal pembatasan jumlah istri dalam perkawinan poligami, setelah melegalkan perkawinan seperti ini melalui serangkaian persyaratan dan kewajiban yang sangat ketat dan tidak ringan.
Saat Islam datang, poligami sebenarnya telah dipraktikkan secara luas tanpa batasan dan syarat apa pun. Praktik poligami tanpa batas ini bukan saja merebak di kalangan bangsa Arab, tetapi juga pada bangsa dan peradaban non-Arab. Saat Islam datang, syariat atau aturan-aturan hukumnya tentu harus mempertimbangkan prinsip kebertahapan dan gradualitas dalam mengubah tradisi dan adat istiadat yang negatif. Kebertahapan ini merupakan suatu hal yang niscaya dilakukan, terutama bila dicermati, bahwa mengubah total secara all at once suatu tradisi dan kultur yang telah mengakar merupakan suatu hal yang hampir mustahil dan bersifat kontraproduktif. Karena itu, prinsip kebertahapan dan gradualitas seperti ini menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan bagi siapa pun yang hendak memahami secara proporsional sikap Islam atas poligami.

Seperti disinggung di atas, sebelum kedatangan Islam, model perkawinan poligami telah marak dipraktikkan tanpa pembatasan jumlah istri yang dipoligami. Islam kemudian datang membatasi jumlah istri yang boleh dinikahi, melalui firman Allah swt:

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat” QS An Nisa :3.

Kendatipun Islam menganggap sah menikahi dengan paling banyak empat orang istri seperti tersurat dalam ayat di atas, tetapi harus diingat, bahwa keabsahan poligami itu hanya dapat dilakukan jika seorang suami memenuhi syarat pokoknya, yakni kemampuan bersikap adil terhadap para istri. Oleh karenanya, Nabi saw mengecam pelaku yang tidak dapat bersikap adil terhadap istri-istrinya “Barangsiapa yang memiliki dua istri (namun) ia lebih cenderung kepada salah satu dari keduanya, niscaya ia datang di Hari Kiamat nanti dengan salah satu kaki yang pincang” HR Ibnu Majah.

Al Qur’an sesungguhnya telah memperingatkan, bahwa bersikap adil terhadap para istri merupakan sesuatu yang sulit diwujudkan. Pelaku poligami, betapapun kuat tekad dan usahanya untuk, tidak akan pernah bisa berhasil mengejawantahkan sikap adil itu secara sempurna. Dalam hal ini, al Qur’an secara jelas menyatakan:

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” QS An Nisa : 129

Jika demikian sulitnya mewujudkan sikap adil terhadap istri-istri dalam perkawinan poligami, maka hendaknya seseorang dalam situasi seperti ini harus merasa cukup dengan satu orang istri saja. Inilah sebenarnya anjuran al Qur’an yang diutarakan secara eksplisit dan gamblang sejak 14 abad silam. Allah swt berfirman :

“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” QS An Nisa : 3

Demikianlah, Islam sesungguhnya tidak bermaksud memerintahkan dan mendorong seorang Muslim untuk kawin dengan lebih dari satu orang, dan tidak lebih dari empat orang. Islam juga bukan agama yang memelopori praktik perkawinan poligami. Sebelum kedatangan Islam, poligami telah menjadi tradisi yang marak dipraktikkan oleh banyak orang. Islam justru datang untuk mengarahkan praktik poligami ini dengan cara yang penuh hikmah, tanpa perlu menimbulkan goncangan sosial yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan di sini, monogami sebenarnya merupakan prinsip dasar perkawinan dalam Islam. Poligami diperbolehkan sebagai bentuk pengecualian, dalam kondisi-kondisi khusus; berdasarkan alasan-alasan yang kuat dan masuk akal.
Untuk menyebut beberapa contoh dari kondisi-kondisi khusus yang dapat dijadikan pengecualian keabsahan berpoligami adalah berkecamuknya peperangan yang mengakibatkan berkurangnya jumlah laki-laki di satu sisi, sementara sisi lain kuantitas perempuan tetap dan terus berkembang. Dalam kondisi seperti ini, poligami dapat dijadikan alternatif untuk mengantisipadi ketidakseimbangan dan menjadi solusi agar kaum perempuan tidak terpaksa harus melajang sepanjang hayat mereka. Seorang istri yang mengalami sakit tak tersembuhkan sehingga tidak dapat melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, atau seorang istri yang tidak mampu memberi keturunan, kondisi-kondisi seperti ini juga dapat dimasukkan sebagai bentuk pengecualian yang memungkinkan seorang suami berpoligami, namun dengan tetap menjaga asas keadilan terhadap para istri, tanpa pembedaan.
Akan tetapi, kendatipun Islam melegalkan poligami sebagai bentuk pengecualian sebagai dijelaskan di atas, hendaknya harus diingat, bahwa Islam mengecam praktik poligami tanpa dasar yang kuat karena akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.

Sumber: Islam Dihujat Islam Menjawab, Prof. Dr. Mahmoud Hamdi Zaqzouq, Penerbit Lentera Hati

Islam dan Hak-hak Perempuan

Ketika Islam pertama kali datang di Jazirah Arabia, kaum perempuan berada dalam posisi yang sangat rendah dan sangat memprihatinkan. Hak-hak mereka diabaikan, suara mereka pun tak pernah didengar. Islam kemudian datang merombak total kondisi yang tidak menguntungkan perempuan ini. Kedudukan mereka kemudian diakui dan diangkat. Ketidakadilan yang mereka alamipun kemudian dihilangkan, hak-hak mereka mendapat pembelaan dan jaminan dalam Islam. Sejak itu, kaum perempuan menemukan kembali jati diri kemanusiaan mereka yang hilang. Mereka sadar bahwa mereka adalah manusia sebagaimana halnya kaum lelaki.
Salah satu sebab terjadinya perubahan kedudukan kaum perempuan itu adalah karena Islam dengan tegas menolak anggapan, bahwa Hawa -simbol perempuan- adalah sumber malapetaka dunia karena telah menggoda Adam hingga ”terjatuh” dari sorga. Berbeda dengan anggapan itu al-Qur’an menjelaskan, bahwa yang menggoda Adam dan Hawa secara bersamaan adalah setan, bukan Hawa, sebagaimana firman Allah swt.:

”Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula”. QS. Al Baqarah:36

Islam menegaskan bahwa manusia secara keseluruhan, lelaki maupun perempuan, diciptakan dari jiwa yang satu. Allah swt. berfirman:

”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri”. QS. An Nisa:1

Laki-laki dan perempuan, dalam pandangan al Qur’an, adalah sama dalam esensi kemanusiaannya. Maka dilihat dari aspek ini, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kedua jenis manusia itu sama mendapatkan kemuliaan yang Allah berikan kepada seluruh umat manusia tanpa pembedaan, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Isra:70 ”Dan sesungguhnya kami telah muliakan anak-anak manusia”
Penting untuk dicatat bahwa ketika al Qur’an menggunakan kata “manusia” (al insan) atau “anak-anak manusia” (bani Adam), kata itu mencakup baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana ayat yang disebut terakhir. Jika pembicaraan dimaksudkan untuk membedakan salah satu jenis manusia, al Qur’an menggunakan kata ar rijal untuk laki-laki dan an nisa untuk perempuan.
Dalam sebuah haditsnya, Nabi saw. mengilustrasikan hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai hubungan kesetaraan dan saling melengkapi. “Kaum perempuan adalah ‘saudara kandung’ kaum lelaki yang memiliki hak dan kewajiban dalam kebaikan” demikian sabda Nabi. Penggunaan kata ‘saudara kandung’ (syaqa’iq) dalam hadits ini mempertegas adanya kesetaraan dan kesejajaran antara lelaki dan perampuan. Oleh karenanya, kedua jenis manusia itu memiliki kedudukan dan derajat yang sama di mata Tuhan. Yang membedakan mereka adalah amal saleh yang mereka lakukan, sebagaimana firman Allah swt:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” QS. An Nahl : 97.

Al Qur’an juga menegaskan, bahwa Allah Maha Mengabulkan doa dan permohonan seorang wanita sebagaimana halnya dengan permohonan lelaki:

“Maka Tuhan akan memperkenankan permohonannyan (dengan firman), “Sesungguhnya Aku tidak menyianyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah sebagian yang lain”. QS. Ali Imran : 195.

Frasa ‘sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain” yang digunakan dalam ayat di atas menunjukkan, bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan bersifat saling melengkapi, karena kehidupan di dunia ini tidak akan berjalan secara baik tanpa partisipasi dari kedua jenis manusia itu.
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui sikap dan pandangan dasar Islam terhadap perempuan yang begitu gamblang dan jelas, karena diambil dari nash-nash yang bersifat pasti (qath’iy), baik dari al Qur’an maupun hadits. Dari itu, mereka yang objektif tidak akan pernah bisa mengatakan bahwa Islam adalah agama yang menindas perempuan dan mengabaikan hak-haknya. Suatu pandangan objektif sejatinya dapat memilah antara Islam sebagai agama di satu sisi, dan tindakan penganutnya di sisilain.

Sumber: Prof. Dr. Mahmoud Hamid Zaqzouq