"Katakanlah:"Dia-lah Allah, Yang Maha Esa". Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Al Quran : Al Ikhlas 1-4)

Kamis, 17 Mei 2012

Bagaimana Bible Mengajarkan Posisi Tangan Saat Berdoa ?

http://imanuelcreative.blogspot.com
Bible mengajarkan bahwa jika seseorang berdoa hendaknya menengadahkan tangannya, dengan penuh permohonan.

"Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menengadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan" (I Timotius 2:8)

Sikap berdoa dengan menadahkan tangan (menengadahkan tangan terbuka ke atas) menandakan bahwa orang yang berdoa tersebut mengharapkan turunnya hidayah, barokah dan keselamatan dari Allah bagi terkabulnya doa.  Sikap demikian juga menunjukkan sikap pasrah dan penghambaan yang tulus.  Tangan yang terbuka juga menunjukkan sikap pengakuan dosa dan pengharapan.  

Tetapi mengapa saat ini pemeluk agama Kristen ketika berdoa justru melipat kedua jari tangannya ?? Dari manakah dasar sikap berdoa demikian ?? Sedangkan Bible dengan jelas menyampaikan posisi tangan saat berdoa adalah dengan menengadahkan tangan terbuka ke atas. Wahai para pendeta/pastor di gereja, kenapa kalian sembunyikan ayat ini..??!!  

Selain dengan cara menengadahkan tangannya, Yesus (Nabi) pun sujud sembari berdoa kepada Tuhan. Belum pada tau ya..?? Para pendeta/pator pasti tidak pernah mengajarkannya, iya kan..??!! 
Silahkan baca Matius 26 : 38-39 
38. lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
39. Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." 

Perhatikan baik-baik ayat 38, di ayat tersebut Yesus berkata bahwa dirinya sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Kemudian Yesus meminta kepada orang-orang untuk  berjaga-jaga dan tetap bersama dengannya. Dengan situasi sekeliling saat itu dan kondisi hatinya yang sangat sedih bahkan seperti mau mati, Yesus kemudian bersujud dan berdoa kepada Tuhan.

Bible dengan jelas menyampaikan bahwa Yesus berdoa dengan cara menengadahkan tangan dan bersujud kepada Allah. BUKAN dengan cara melipat kedua jari tangan, BUKAN dengan cara membuat tanda salib.

Selasa, 09 Agustus 2011

Karena Inikah Yesus Diper-Tuhankan?

http://peacebk.blogspot.com
Hanya dengan lima potong roti dan dua ekor ikan, Yesus bisa memberi makan sebanyak lima ribu orang. Karena inikah Yesus diper-Tuhankan?
Hal yang sama juga dilakukan oleh Elisha dan Elijah. Elisha memberi makan kepada seratus orang hanya dengan dua puluh potong roti gandum dan beberapa biji jagung (II Kings 4 : 41-44).
"Tetapi berkatalah Elisa: "Ambillah tepung!" Dilemparkannyalah itu ke dalam kuali serta berkata: "Cedoklah sekarang bagi orang-orang ini, supaya mereka makan!" Maka tidak ada lagi sesuatu bahaya dalam kuali itu". "Datanglah seseorang dari Baal-Salisa dengan membawa bagi abdi Allah roti hulu hasil, yaitu dua puluh roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong. Lalu berkatalah Elisa: "Berilah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan." "Tetapi pelayannya itu berkata: "Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?" Jawabnya: "Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman Tuhan: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya." "Lalu dihidangkannyalah di depan mereka, maka makanlah mereka dan ada sisanya, sesuai dengan firman Tuhan."Dalam I Kings 17:6 “Dan burung-burung gagak membawakan dia (Ellijah) roti dan daging di pagi hari, roti dan daging di petang hari dan dia minum air selokan”.
Selanjutnya I Kings 17 : 13-16 "Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu". "Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi". "Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya". "Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia".


Dapat membuat orang buta melihat kembali. Karena inikah Yesus diper-Tuhankan? Hal tersebut juga dapat dilakukan oleh Elisha (II Kings 6:17) “Dan Elisha berdoa, serta berkata, Tuhan, saya berdoa kepadamu, bukakan mata dia, sehingga dia dapat melihat. Dan Tuhan membuka kedua mata orang muda itu; dan dia melihat kembali...”
(II Kings 6:20) “Dan hal itu datang berlalu, ketika mereka orang-orang yang buta matanya harus datang ke Sanaria, Elisha berkata, ya Tuhan tolong bukakan mata orang-orang ini, agar mereka melihat kembali. Dan Tuhan membukakan mata mereka, dan mereka melihat; dan lihatlah, mereka berada ditengah-tengah Samaria”.

Menyembuhkan penyakit kusta.
Karena inikah Yesus diper-Tuhankan?
Elisha mampu menyembuhkan penyakit kusta. II Kings 5 : 7-10 "Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: "Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku". "Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel". "Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa". " Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir."

Mampu mengusir roh-roh jahat.
Karena inikah Yesus diper-Tuhankan?
Yesus juga mengakui bahwa orang lainpun dapat melakukannya (Matias 12:27 dan Lukas 11:19). "Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu".

 

Menghidupkan orang mati. Karena inikah Yesus diper-Tuhankan?
Elisha juga melakukannya. Silahkan baca II Kings 13 : 21 "Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya orang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu suatu pasukan, lalu dicampakkannya orang mati itu dalam kubur Elisha, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisha itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri"
Di ayat ini menyatakan bahwa tulang-tulang Elisha dapat menghidupkan orang-orang mati. Jadi bukan Yesus saja yang dapat menghidupkan orang mati, bahkan tulang-tulang Elisha dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisha adalah tulang-tulang ketuhanan.
Bila Yesus diwaktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisha diwaktu tidak bernyawa, bahkan hanya dengan tulang-tulangnya yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib, maka Elisha jauh lebih ajaib daripada Yesus. Juga dalam I Kings 17 : 2 "Maka didengar akan doa Elisha itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu ke dalamnya sehingga hiduplah ia pula".
 
Lahir tanpa Bapak. Karena inikah Yesus diper-Tuhankan?
Misalnya ada orang yang dilahirkan tanpa bapak dan tanpa ibu, maka orang tersebut sudah tentu lebih berhak menduduki jabatan Tuhan daripada Yesus yang dilahirkan tanpa bapak saja. Ambil contoh yang paling mudah, Adam dan Hawa, bagaimana?!. Jika dasarnya karena Yesus lahir tanpa Bapak, maka nabi Adam dan Hawa jauh lebih berhak menduduki jabatan itu. Pasti ada yang bilang begini "Tapi kan Adam dan Hawa berdosa", kalau begitu Yesus juga berdosa. Berdasarkan silsilah Yesus dilahirkan oleh Maria, sedangkan Maria adalah keturunan Adam dan Hawa.
Baik, sekarang kita cari yang lain. Dalam Ibrani 7 : 1-3
"Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia". "Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera". "Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya".
Dari ayat di atas maka Melkisedek juga berhak menduduki jabatan Tuhan. Bahkan lebih berhak daripada Yesus, karena ia tidak berbapa dan tidak beribu. Melkisedek juga tanpa silsilah, bukan keturunan Adam dan Hawa.

Untuk poin
Lahir tanpa bapak ini dilanjutkan dengan cerita Bible tentang orang tua Yesus. 
Orangtua Yesus
1. Pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah
Lukas 2 : 41 ”Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah”
2. Mencari Yesus
Lukas 2 : 48-50 ”Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: ''Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau". ”Jawab-Nya kepada mereka: ''Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?''. "Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka".
Ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa kedua orangtua Yesus adalah manusia. Pada hari raya paskah, orang tuanya pergi ke Yerusalem. Orang tua Yesus juga cemas saat mereka tidak melihat Yesus. Jadi siapa orangtuanya Yesus? Yesus itu anak siapa?
Ayahnya Yesus
Matius 1 : 15-16 ”Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub”. “Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut kristus”
Dengan jelas sekali ayat tersebut menyatakan :
1. Yusuf adalah suaminya Maria.
2. Yusuf adalah ayahnya Yesus.
3. Yesus adalah anaknya Yusuf dan Maria.
Pusing, bingung?
 

Melihat Tuhan. Karena inikah Yesus diper-Tuhankan?
Abraham melihat Tuhan. Kejadian 18 : 1 "Kemudian Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik". Dan Yakub juga melihat. Kejadian 32 : 30 "Maka dinamaim oleh Yakub akan tempat itu pniel karena katanya:"Sudah kulihat Allah muka dengan muka, maka nyawaku selamatlah".
Jadi yang pernah melihat Tuhan bukan hanya Yesus, Abraham dan Yakub juga pernah melihat Tuhan. Bahkan Yakub melihat Tuhan dengan muka bertemu muka.


Memiliki Roh Kudus. Karena inikah Yesus diper-Tuhankan?
Kisah 6 : 5 "
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia". Ayat ini memperlihatkan bahwa Roh Kudus bukan hanya dimiliki oleh Yesus.
2 Petrus 3 : 2 "
Supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu". Bible sendiri menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan, dengan kata lain Yesus dalam kandungan Mariam itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan. Melainkan  roh suci, roh bersih, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya.
Selanjutnya dalam Lukas 1 : 41 "
Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus". Sudah sangat jelas bahwa arti Roh Kudus adalah roh suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapapun yang dikehendakinya. Bila Roh Kudus diartikan sebagai Tuhan atau Roh Tuhan, maka bukan Yesus saja yang menjadi Tuhan atau anak Tuhan. Melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, termasuk para nabi, dan Elisabet pun seharusnya Tuhan juga.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Dan Yesus pun Menghukum Orang yang Mengatakan Dirinya Tuhan

Selain tidak ada satu pun ayat dalam Bible dimana Yesus berkata "Aku adalah Tuhan" atau "Sembahlah Aku", bahkan Yesus pun menghukum orang yang menyatakan bahwa dirinya Tuhan.  Lukas 9 : 20 dan 21 "Dia (Yesus) bertanya kepada mereka (para murid), Tetapi memanggil apa kalian kepadaku? Peter yang sedang menjawab, mengatakan Kristus Tuhan. Dan dia langsung menghukum mereka, serta memerintahkan mereka untuk tidak mengatakan kepada siapapun hal itu".
Perhatikan kalimat "Dan dia langsung menghukum mereka, serta memerintahkan mereka untuk tidak mengatakan kepada siapapun hal itu", dengan sangat tegas Yesus melarang orang mengatakan dirinya Tuhan, dan Yesus pun menghukum orang yang mengatakan dirinya Tuhan. Sudah sangat Yesus melarang memper-Tuhankan dirinya, lantas kenapa masih aja mengatakan Yesus itu Tuhan?!
Jika Yesus memang beneran Tuhan, sudah tentu dirinya tidak akan menghukum orang yang mengakui ke-Tuhanannya. Sebaliknya justru orang tersebut mendapat pahala yang besar. 
Kalau begitu siapa Yesus itu?, biarkan Bible yang menjawabnya. 
1. Yohanes 17:13 "Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu.  Ayat ini dengan sangat jelas menyatakan Allah itu Esa, tunggal bukan Tritunggal. Kemudian ayat ini mengatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi atau utusan Tuhan. 
2. Ulangan 6:4 “Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya
3. Ulangan 4:39 “Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali Ia tidaklah lain lagi”.
4. Yohanes 5:30 "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku."
6. Yohanes 17:8 "Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." 
7. Yohanes 17:21 "Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
8. Yohanes 17:23 "Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." 

Bukalah mata, bukalah hati, renungkan dengan akal yang telah Tuhan berikan kepada kita. Akal juga yang menjadi pembeda antara manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Pergunakanlah ia sesuai fungsinya, jangan biarkan terbelenggu. Pergunakanlah akal untuk mencari jawaban atas kegelisahan hati itu...

Rabu, 03 Agustus 2011

Bersediakah Yesus Mati untuk Menebus Dosa Manusia?

Bagi yang membaca Bible tentu akan menjawab tidak, Yesus tidak bersedia mati untuk menebus dosa manuasia. Sebaliknya bagi mereka yang menerima dogma tanpa mempelajari terlebih dahulu dasarnya sebagian besar berkata iya. Orang yang belum membaca Bible ini biasanya mengatakan 'Yesus mati untuk menebus dosa manusia', ada juga yang mengatakan 'Dia rela mati untukmu' dan sebagainya. Banyak kalimat heroik, dan penggambaran suasana yang menyentuh perasaan perihal kematian Yesus di tiang salib. Namun semua itu hanya dogma dan doktrin yang dibantah oleh Bible. Matius pasal 27 ayat 46 mengatakan 'Maka sekira-kira pukul tiga, berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya:"Eli Eli, lama sabktini", artinya"Ya Tuhan apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku" '.
Mari kita cermati dengan akal yang telah Tuhan berikan. Jika kehidupan Yesus memang untuk disalib guna menebus dosa, mengapa Yesus menolak dan tidak bersedia untuk disalib. Perhatikan kalimat '...berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya:"Eli Eli, lama sabktini", artinya "Ya Tuhan apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku', Yesus sendiri berteriak dengan suara nyaring minta tolong kepada Tuhan agar ia terlepas dari penyaliban. Kalimat tersebut dengan jelas memperlihatkan bahwa Yesus tidak bersedia mati, apalagi menebus dosa. Malah Yesus mempertanyakan pada Tuhan 'Ya Tuhan apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku'.
M
engapa menyembah 'sesuatu' yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri?. Bagaimana ia dapat menyelamatkan orang lain, sedangkan menyelamatkan diri sendiri saja tidak bisa.
Pertanyaan lainnya yaitu apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat?. Semestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih pada mereka yang menyalibkan dia. Bahkan mereka itu seharusnya mendapat ganjaran kebaikan, karena membantu misi kehidupan Yesus. Kalo Yesus memang beneran harus disalib untuk menebus dosa-dosa manusia.
Jika tidak ada manusia yang bersedia menyalib Yesus, maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalib Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut agama Kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu dilaknat. Mestinya mereka itu masuk surga dan dipuji atas jasanya.

Silahkan baca Matius 26 : 36-38
36. "Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
37. Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
38. lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
Ayat tersebut memperlihatkan bagaimana kondisi Yesus yang sangat ketakutan saat menjalani takdirnya. Ia menjadi, gentar hatinya, dan bahkan merasa mau mati.

Kita lanjutkan, jika Yesus memang beneran bersedia mati disalib untuk menebus dosa, seharusnya Yesus tidak perlu ditangkap atau dipaksa-paksa.  Melainkan dengan sukarela meminta sendiri untuk disalib demi menebus dosa orang yang percaya padanya.  Tetapi yang ada malah Yesus mengajak murid-muridnya kabur. Perhatikan ayat ini: "Bangunlah kamu, marilah kita pergi, tengok orang yang menyerahkan aku sudah dekat" (Markus 14 : 42).

Senin, 01 Agustus 2011

Bible Berbicara Mengenai Yesus dan Tuhan

Silahkan simak apa yang sesungguhnya Bible katakan mengenai Yesus dan Tuhan. Bukan berdasarkan doktrin Gereja. Konsep Ke-Tuhanan merupakan hal paling mendasar dalam keyakinan suatu agama, sehingga konsep Ke-Tuhanan seharusnya memiliki dasar yang kuat dan jelas. Namun dalam kenyataannya antara doktrin dan Bible bertolak belakang. 

1. Markus pasal 12 ayat 29
'Maka jawab Yesus kepadanya: 'Hukum yang terutama inilah: dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan Kita, ialah Tuhan Yang Esa'
Pada ayat di atas Yesus memberikan pernyataan yang sangat jelas sekali bahwa:
-Yesus bukan Tuhan
-Tuhan itu Esa, Tunggal. Bukan Tritunggal
-Yesus dan Tuhan tidak setara

2. Ulangan pasal 4 ayat 35
'Maka kepadamulah Ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi.'
Yesus sendiri yang menyampaikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa. Yesus tidak mengatakan dirinya Tuhan. Ayat tersebut dengan jelas membantah konsep Trinitas.

3. Ulangan pasal 6 ayat 4
'Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.'
Ayat ini menegaskan kembali bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Tuhan itu Esa, Tunggal. 

4. Johanes pasal 5 ayat 30
'Maka aku tidak boleh berbuat satu apa dari mauku sendiri, Seperti aku dengar begitu aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tidak aku coba turut mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku.'
Yesus berkata bahwa ia tidak berkuasa berbuat menurut kemauannya. Wajarkah Tuhan tidak berkuasa. Di ayat ini pun Yesus mengaku bahwa kehendaknya itu menurut kehendak Tuhan yang mengutus dia. Kalau Yesus betul Tuhan, tentu tidak dapat diperintah oleh siapapun. Poin-poin yang bisa diambil dari ayat tersebut: 
-Yesus bukan Tuhan
-Yesus adalah utusan Tuhan
-Yesus adalah seorang Nabi yang diutus Tuhan

5. Yahya pasal 3 ayat 13
'Seorang pun tiada naik kesurga, kecuali ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia.'
Bible sendiri yang menyatakan bahwa Yesus adalah anak manusia, bukan Tuhan. 

6. Yahya pasal 17 ayat 8
'Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah Aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa Aku datang dari Ada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku.'
Pada ayat tersebut Yesus berkata bahwa ia menerima firman dari Allah. Jika Yesus Tuhan, tentunya tidak membutuhkan firman dari siapapun juga. Kemudian di akhir ayat itu Yesus berkata bahwa 'Engkaulah yang menyuruh aku.' Jadi Yesus itu bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan, sebagaimana Nabi-nabi dan utusan-utusan Allah yang lain-lain juga. 

7. Yahya pasal 5 ayat 30
'Suatu pun tidak aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya, karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.'
Ayat ini menyebutkan bahwa perbuatan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. Dan sekiranya Yesus itu Tuhan, tentunya tidak ada yang mengutus. Mustahil Tuhan menjadi utusan Tuhan. Yang menjadi utusan Tuhan tentunya Nabi, sebagaimana Nabi-nabi lainnya yang menjadi utusan Tuhan. 

8. Samuel kedua pasal 7 ayat 22
'Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami.'
Di ayat ini jelas bahwa Yesus sendiri menghadapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah. Yesus sendiri yang mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan Tuhan, dengan kata lain ia bukan Tuhan, dan ditengah-tengah ayat itu Yesus sendiri berkata: 'Tiada Allah melainkan engkau'. Yesus telah berkata bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah, lantas mengapa masih mempertuhankan Yesus? Sedangkan Yesus telah menyatakan bahwa dirinya bukan Tuhan.

Berpikirlah kritis, renungkan dengan hati dan pikiran yang jernih. Gunakan akal yang telah Allah berikan kepada kita. Beragamalah berdasarkan keyakinan yang mantap, bukan beragama karena turunan. Cari jawaban atas kegelisahan hati itu.

Minggu, 24 Juli 2011

Benarkah Yesus Berambut Gondrong?

www.lulu.com
Penampilan Yesus sering digambarkan berambut gondrong panjang, berkulit putih, dan berjambang, tidak memiliki dasar apapun yang jelas. 1 Korintus 11:14-15 yang ditulis oleh Paulus mengatakan 'Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang. Tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan jika ia berambut panjang' Jika memang betul Yesus itu berambut gondrong seperti figure atau gambaran yang ada, baik dalam lukisan maupun patung. Bukankah ini adalah sebuah celaan dari Paulus untuk Yesus? Perhatikan kata 'kehinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang', kenapa Paulus berani-beraninya mencela kegondrongan rambut Yesus? Kalau ia memang betul-betul murid Yesus dan pernah bertemu Yesus.
Ketiadaan dasar yang jelas perihal penampilan fisik Yesus tersebut, tentunya sebagai manusia yang kritis akan timbul berbagai pertanyaan;
1. Seperti apakah penampilan Yesus sesungguhnya? Betulkah ia berambut gondrong dan berkumis serta brewok seperti gambaran yang ada saat ini? Bagaimana jika Gereja tidak memilki patung Yesus yang berambut gondrong panjang, tentu terasa ‘kurang’ bukan?. Bukannya semua Gereja pasti memiliki setidaknya lukisan, fragmen, atau patung Yesus dengan rambut gondrongnya. Doktrin agama seharusnya memiliki dasar kebenaran yang jelas. Jika tidak, apa bedanya dengan mitos-mitos atau dongeng lainnya.
2. Jika memang Yesus tidak gondrong seperti gambaran yang ada, lalu siapa orang yang pertama kali menyebarkan gambaran figure Yesus yang berambut gondrong? Hebatnya, orang-orang ini telah sukses membuat skenario yang diyakini oleh banyak orang di dunia, kalau Yesus itu gondrong. Bila persoalan rambut dan penampilan fisiknya Yesus saja dapat dimanipulasi, lalu apa susahnya memalsukan ajaran Injil lainnya, dan menyebarkan pada penganutnya. Coba direnungkan.
3. Kemungkinan selanjutnya, yaa..... mungkin saja Yesus itu memang gondrong, tapi kalau begitu berarti Paulus tidak pernah ketemu dengan Yesus dong! Jika dia memang betulan murid Yesus, masa sih dia berani mencela Yesus. Kalau Paulus memang di ilhami Roh Kudus yang oleh umat Kristen diyakini sebagai oknum Tuhan, kenapa dia mencela Yesus? Berarti dia mencela dirinya sendiri.

Anak Tuhan Menurut Bible


Umat Kristen menganggap Yesus adalah anak Tuhan. Namun jika dikaji dari Bible mereka sendiri, maka sesungguhnya sudah sangat jelas bagaimana maksud atau arti anak Tuhan menurut Bible.

Beberapa ayat Bible yang sering kali disampaikan pada sekolah minggu serta menjadi dasar bahwa Yesus adalah Anak Tuhan, yaitu:

- Matius pasal 3 ayat 17 "Maka suatu suara dari langit mengatakan: "Inilah anakku yang kukasihi. Kepadanya Aku berkenan."

- Lukas pasal 4 ayat 41 "Roh-roh jahat pun keluar dari banyak orang, sambil berteriak-teriak, "Engkaulah Anak Allah!" Tetapi Yesus membentak mereka dan tidak mengizinkan mereka berbicara, sebab mereka tahu bahwa Dialah Raja Penyelamat."

-Yohanes pasal 14 ayat 9 "Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa", terus ayat 10"Tiadakah engkau percaya bahwa aku ini di dalam Bapa, dan Bapa pun di dalam Aku? Segala perkataan yang Aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu."


Baiklah, sekarang kita simak siapa atau bagaimana anak Tuhan sesungguhnya menurut Bible. 
Dimulai dari Matius pasal 5 ayat 9:
"Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah". 

Ayat ini menyatakan bahwa yang dimaksud 'anak Allah' ialah orang yang dihormati seperti nabi. Bila Yesus dianggap sebagai anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah. Jadi bukan Yesus saja yang menjadi anak Allah, tetapi ada yang lainnya dan jumlahnya sangat banyak.

Keluaran pasal 4 ayat 22 :"Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung". 
Di sini dijelaskan bahwa Israel adalah anak Tuhan yang sulung, sedangkan Yesus sendiri tidak disebutkan anak yang keberapa.

Selanjutnya dalam Yeremia pasal 31 ayat 9 :"Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku".
Jelas sekali bahwa berdasarkan Bible sendiri anak Tuhan itu banyak sekali, bukan hanya Yesus saja. Yang dimaksud 'anak' dalam ayat-ayat tersebut ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus. Jadi bukan anak yang sebenarnya. Ayat di atas juga menyatakan bahwa Efraim sebagai anak sulung, sementara dalam Keluaran 4:2 yang disebut sebagai anak sulung adalah Israel.  

Yohanes pasal 17 ayat 23 :"Aku di dalam mereka itu, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan".
Perhatikan kalimat 'Aku di dalam mereka'. Kata 'mereka' dalam ayat ini maksudnya adalah sahabat-sahabatnya Yesus (supaya lebih jelas kata 'mereka' di sini maksudnya adalah sahabat-sahabat Yesus, silahkan baca ayat-ayat sebelumnya). Sedangkan yang dimaksud dengan kata 'Aku' adalah Yesus. Jadi kalimat 'Aku di dalam mereka' artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Jadi Tuhan itu beserta Yesus dan sahabat-sahabatnya.
Apabila mempercayai tentang kesatuan Bapa dengan Yesus, maka harus juga mempercayai tentang kesatuan Bapa dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah dengan 12 orang lagi. Bapa + (Yesus dan 12 sahabatnya) + Roh Suci, maka hasilnya adalah Lima Belas Tunggal, bukan Tri Tunggal.

Ada beberapa ayat lain dalam Bible yang menyebutkan Yesus itu anak Allah/Tuhan, akan tetapi maksudnya bukan anak Allah yang sebenarnya, karena Yesus sendiri mengaku di Bible bahwa ia adalah utusan Allah, bukan anak Allah. Yesus juga berkata anak manusia bukan anak Tuhan. 
Jadi ayat-ayat di Bible yang menyebutkan Yesus itu anak Allah bukan berarti Yesus itu anak Allah dalam arti sesungguhnya, sebagaimana kita sering mendengar ucapan-ucapan  'anak kapal', 'anak sekolah'. Bukan berarti kapal dan sekolah itu beranak, melainkan mempunyai arti bahwa orang itu selalu terikat oleh peraturan-peraturan di kapal dan peraturan-peraturan di sekolah.

Bukalah mata dan bukalah hati, dengarkan hati nuranimu yang paling dalam...renungkanlah dengan akal dan pikiran yang telah Tuhan berikan kepda kita. Beragamalah sesuai keyakinan hati...BUKAN beragama hanya karena turunan, BUKAN beragama karena ikut-ikutan. Carilah jawaban atas kegelisahan hati itu...

Rabu, 29 Juni 2011

Takdir

Relativitas waktu memperjelas sebuah permasalahan yang sangat penting. Relativitas sangat bervariasi. Apa yang bagi kita tampak seperti bermiliar-miliar tahun, mungkin dalam dimensi lain hanya berlangsung satu detik. Bahkan, bentangan periode waktu yang sangat panjang dari awal hingga akhir dunia, dalam dimensi lain hanya berlangsung sekejap.

Ini adalah intisari dari konsep takdir — sebuah konsep yang belum dipahami dengan baik oleh kebanyakan manusia, khususnya materialis yang jelas-jelas mengingkari hal tersebut. Takdir adalah pengetahuan sempurna yang dimiliki Allah tentang seluruh kejadian masa lalu atau masa depan. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi, dan ini membuat mereka gagal memahami kebenaran takdir. "Kejadian yang belum terjadi" hanya belum dialami oleh manusia. Allah tidak terikat ruang ataupun waktu, karena Dialah pencipta keduanya. Oleh sebab itu, masa lalu, masa mendatang, dan sekarang, seluruhnya sama bagi Allah; bagi-Nya segala sesuatu telah berjalan dan telah selesai.

Dalam The Universe and Dr. Einstein, Lincoln Barnett menjelaskan bagaimana Teori Relativitas Umum membawa kita kepada kesimpulan di atas. Menurut Barnett, alam semesta "dengan seluruh keagungannya hanya dapat dicakupi oleh sebuah intelektual kosmis." 6 Kehendak yang disebut Barnett sebagai "intelektual kosmis" tak lain adalah ketetapan dan pengetahuan Allah yang berlaku bagi seluruh alam semesta. Allah memahami waktu yang berlaku pada diri kita dari awal hingga akhir sebagai kejadian tunggal, sebagaimana kita dapat melihat awal, tengah dan akhir sebuah mistar beserta semua unitnya sebagai satu kesatuan. Manusia mengalami kejadian hanya bila saatnya tiba, dan mereka menjalani takdir yang telah Allah tetapkan atas mereka.

Perlu diperhatikan pula kedangkalan dan penyimpangan pemahaman masyarakat tentang takdir. Mereka berkeyakinan bahwa Allah telah menentukan "takdir" setiap manusia, tetapi takdir ini terkadang dapat diubah oleh manusia itu sendiri. Sebagai contoh, orang akan mengomentari seorang pasien yang kembali dari gerbang kematian dengan pernyataan seperti "ia telah mengalahkan takdirnya". Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdirnya. Orang yang kembali dari gerbang kematian tidak mati karena ia ditakdirkan tidak mati saat itu. Mereka yang mengatakan "saya telah mengalahkan takdir saya" berarti telah menipu diri sendiri. Takdir mereka pulalah sehingga mereka berkata demikian dan mempertahankan pemikiran seperti itu.

Takdir adalah pengetahuan abadi kepunyaan Allah, Dia yang memahami waktu sebagai kejadian tunggal dan Dia yang meliputi keseluruhan ruang dan waktu. Bagi Allah, segalanya telah ditentukan dan sudah selesai dalam sebuah takdir. Berdasarkan hal-hal yang diungkapkan dalam Al Quran, kita juga dapat memahami bahwa waktu bersifat tunggal bagi Allah. Kejadian yang bagi kita terjadi di masa mendatang, digambarkan dalam Al Quran sebagai kejadian yang telah lama berlalu. Sebagai contoh, ayat-ayat yang menggambarkan manusia menyerahkan catatan amalnya kepada Allah di akhirat kelak, mengungkapkan kejadian tersebut sebagai peristiwa yang telah lama terjadi:

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangka-kala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dirugikan... Orang-orang kafir dibawa ke neraka jahanam berombong-rombongan... (QS. Az Zumar, 39: 73)

Ayat lainnya mengenai masalah ini adalah:

Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (QS. Qaaf, 50: 21)

Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (QS. Al Haaqqah, 69: 16)

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera. Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. (QS. Al Insan, 76: 12-13)

Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. (QS. An Naazi'aat, 79: 36)

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. (QS. Al Muthaffifiin, 83: 34)

Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling daripadanya. (QS. Al Kahfi, 18: 53)

Terlihat bahwa peristiwa yang akan terjadi setelah kematian kita (dari sudut pandang manusia) dibicarakan dalam Al Quran sebagai peristiwa yang sudah selesai dan telah lama berlalu. Allah tidak terbatasi kerangka waktu relatif yang membatasi kita. Allah menghendaki semua ini dalam ketiadaan waktu; manusia sudah selesai melakukannya, seluruh peristiwa telah dilalui dan telah berakhir. Dalam ayat di bawah ini disebutkan bahwa setiap kejadian, kecil maupun besar, seluruhnya berada dalam pengetahuan Allah dan tercatat dalam sebuah kitab:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam sebuah kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus, 10: 61)


Sumber: Harun Yahya, www.harunyahya.com

Relativitas dalam Al Quran

Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern membawa kita pada kesimpulan bahwa waktu tidak bersifat absolut seperti anggapan materialis, tetapi merupakan persepsi relatif. Sangat menarik bahwa fakta yang baru terungkap oleh ilmu pengetahuan pada abad ke-20 ini, telah disampaikan dalam Al Quran kepada manusia 14 abad yang lalu.

Waktu adalah persepsi psikologis yang dipengaruhi oleh peristiwa, tempat dan kondisi. Fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah ini dapat kita temukan pada banyak ayat Al Quran. Sebagai contoh, Al Quran menyatakan bahwa masa hidup seseorang sangat pendek:

Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja. (QS. Al Israa', 17: 52)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari; (di waktu itu) mereka akan saling berkenalan. (QS. Yunus, 10: 45)

Beberapa ayat menunjukkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda dan kadang-kadang manusia bisa menganggap suatu periode yang sangat pendek sebagai periode yang sangat panjang. Contoh yang tepat adalah dialog antara beberapa manusia yang terjadi di saat pengadilan mereka di hari kiamat:

Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. Al Mu'minuun, 23: 112-114)

Dalam beberapa ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa di tempat yang berbeda, waktu dapat mengalir dengan cara berbeda pula:

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-sekali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al Hajj, 22: 47)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (QS. Al Ma'aarij, 70: 4)

Ayat-ayat ini mengungkapkan dengan jelas perihal relativitas waktu. Fakta yang telah disampaikan kepada manusia sekitar 1.400 tahun yang lalu ini baru dimengerti oleh ilmu pengetahuan pada abad ke-20. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran diturunkan oleh Allah, Dia yang meliputi seluruh ruang dan waktu.

Banyak ayat Al Quran lainnya menunjukkan bahwa waktu adalah persepsi. Hal ini terlihat jelas terutama dalam kisah-kisah Al Quran. Sebagai contoh, Allah telah membuat Ashhabul Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) — sekelompok orang beriman yang disebutkan dalam Al Quran — tertidur lelap selama lebih dari tiga abad. Ketika terbangun, mereka mengira telah tertidur sebentar tetapi tidak dapat memastikan berapa lama:

Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). (QS. Al Kahfi, 18: 11-12)

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?" Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari. Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui…" (QS. Al Kahfi, 18: 19)

Keadaan yang diceritakan dalam ayat di bawah ini juga membuktikan bahwa sesungguhnya waktu adalah persepsi psikologis.

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atap-atapnya. Dia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah berkata, "Berapa lamakah engkau tinggal di sini?" Dia berkata, "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman, "Sebenarnya engkau telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah makanan dan minumanmu yang tidak tampak berubah; dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Dan lihatlah tulang belulang keledai itu, bagaimana kami menyusunya kembali, kemudian kami menutupinya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), diapun berkata, "Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah, 2: 259)

Ayat di atas dengan jelas menekankan bahwa Allah-lah yang menciptakan waktu, dan keberadaan-Nya tidak terbatasi oleh waktu. Di sisi lain, manusia dibatasi oleh waktu yang ditakdirkan Allah. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat di atas, manusia bahkan tidak mampu mengetahui berapa lama ia tertidur. Dalam keadaan seperti ini, menyatakan bahwa waktu adalah absolut (sebagaimana dikatakan materialis) merupakan hal yang tidak masuk akal.


Sumber: Harun Yahya, www.harunyahya.com

Rahasia Dunia

Allah menunjukkan tujuan manusia dalam ayat berikut:

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi, 18: 7)

Dengan demikian, Allah mengharapkan manusia tetap menjadi hamba-Nya yang setia sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, dunia adalah tempat di mana mereka yang takut kepada Allah dan mereka yang tidak berterima kasih kepada Allah dibedakan satu sama lain, kebaikan dan keburukan, kesempurnaan dan kekurangan bersisian dalam "kerangka" ini. Manusia diuji dalam banyak hal. Pada akhirnya, orang-orang yang beriman akan terpisahkan dari orang-orang yang tidak beriman dan mencapai surga. Dalam Al Quran hal tersebut digambarkan sebagai berikut:

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabuut, 29: 3)


Saat memandang bumi dari angkasa, siapa pun yang mengklaim punya keunggulan mau tak mau akan menyadari keberadaannya sebagai tak lebih dari sebuah titik teramat kecil di dunia ini. Karena merasa punya status dan tempat yang khusus di dunia ini, banyak orang menganggap diri dan cara hidupnya berbeda dari yang lainnya. Namun, baik seseorang itu berkecukupan maupun miskin, tua maupun muda, terpelajar maupun buta huruf, ia menempati ruang yang nyaris dapat diabaikan di alam semesta yang sangat luas ini, samudera miliaran bintang.



Gambar ini menunjukkan posisi bumi di dalam tata surya, posisi tata surya di dalam Bima Sakti, dan akhirnya, posisi galaksi kita di alam semesta.

Untuk memahami intisari dari ujian ini, seseorang harus memiliki pemahaman mendalam tentang Penciptanya, yang keberadaan dan sifat-Nya terwujud dalam segala sesuatu yang ada, Ialah sang Pencipta, Pemilik kekuatan, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang tak terbatas.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyhr, 59: 24)

Allah menciptakan manusia dari tanah liat, memberkahinya dengan banyak keistimewaan, dan melimpahkan banyak kemurahan atasnya. Tidak ada seorang pun mendapatkan kemampuan penglihatan, pendengaran, berjalan, atau bernafas dengan sendirinya. Lebih lanjut, sistem yang kompleks ini ditempatkan di tubuhnya dalam rahim sebelum ia dilahirkan dan ketika ia tidak memiliki kemampuan apa pun untuk merasakan dunia luar.

Dengan seluruh pemberian ini, yang diharapkan dari seorang manusia adalah agar ia menjadi hamba Allah. Bagaimanapun, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran, kebanyakan manusia adalah "pendurhaka" dan "tidak berterima kasih" kepada Penciptanya, karena mereka menolak mematuhi Allah. Mereka menganggap bahwa kehidupan itu panjang dan mereka memiliki kekuatan untuk bertahan.

Itulah sebabnya tujuan mereka adalah "menggunakan hidup mereka sebaik-baiknya selagi sempat". Mereka melupakan kematian dan hari akhir, Mereka berusaha keras menikmati kehidupan dan mencapai standar kehidupan yang lebih baik. Allah menjelaskan kecintaan mereka terhadap hidup ini dalam ayat berikut:

Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat. (QS. Al Insaan, 76: 27)

Di dalam Al Quran, wahyu otentik terakhir yang tersisa, yang membimbing manusia kepada jalan yang benar, Allah berulang kali mengingatkan kita akan sifat fana dunia ini, memanggil kita kepada kejernihan pikiran dan kesadaran. Tentu saja, di mana pun kita tinggal, kita semua rentan terhadap dampak-dampak yang menghancurkan dari dunia ini, sebuah fenomena yang menjelaskan dirinya sendiri bagi orang-orang yang mengamati kehidupan dan berbagi kejadian di sekitar kita. Ini sama halnya untuk segala keindahan yang mengelilingi kita. Gambar di halaman ini masing-masingnya menunjukkan fakta ini. Setiap sudut dunia betapa pun mengesankannya, akan rusak dalam beberapa dasawarsa, terkadang bahkan dalam jangka waktu yang lebih singkat daripada yang diperkirakan.

Segala sesuatu di muka bumi ditakdirkan untuk musnah. Inilah sifat kehidupan duniawi yang sebenarnya...

Orang-orang yang tidak beriman berusaha keras merasakan seluruh kesenangan hidup ini. Namun, sebagaimana yang digambarkan dalam ayat di atas, hidup berlalu dengan sangat cepat. Ini adalah poin penting yang dilupakan oleh kebanyakan manusia.


Sumber: Harun Yahya, www.harunyahya.com